MOTIVATOR BISNIS


Go to content

MENJADI SANG MOTIVATOR

SUCCESS ARTICLES

Johanes Lim, Sang Motivator, Sukses Kaya, Meningkatkan Sales, Public Speaker Terkenal

Penulis: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt
Dikutip dari buku SANG MOTIVATOR


MENJADI SANG MOTIVATOR

Motivation alone is not enough. If you have an idiot and you motivate him, now you have a motivated idiot.
(Jim Rohn)

Motivasi saja tidak cukup. Jika Anda mempunyai orang idiot, dan Anda motivasi dia, maka sekarang Anda mempunyai orang idiot yang termotivasi (Jim Rohn)


Menurut saya, menjadi Motivator adalah pekerjaan mulia; serupa dengan profesi guru, pengkhotbah, rohaniwan; sama sama bertujuan untuk membangun kualitas kepribadian kemanusiaan yang baik.
Namun ada dua hal yang mengganggu hati saya berkenaan dengan profesi Motivator maupun pelayanannya, yakni:

Pertama, adanya anggapan bahwa menjadi Motivator itu adalah urusan gampang, sepele! Siapa saja yang mau, pasti bisa! Bahkan ada persepsi bahwa pekerjaan Motivator itu hanyalah asal bisa “cuap cuap dan teriak teriak” menyemangati orang, mengutip beberapa perkataan bijak dari tokoh hebat, maka ia sudah layak menjadi Motivator?! Tidak perlu bekal pendidikan dan keterampilan khusus; dan tidak perlu bekal pengalaman dan kesaksian hidup atau “track record”!?

Kedua, adanya anggapan bahwa asalkan orang yang dimotivasi termotivasi, maka tugas Motivator berarti berhasil; tidak perduli apakah orang yang nampak bersemangat itu sungguh-sungguh berubah hidupnya menjadi lebih berkualitas secara permanen ataukah tidak, itu bukan urusannya!?

Padahal, menjadi Motivator yang sungguh Motivator, bukanlah pekerjaan mudah; karena bukan sekedar bisa menasehati orang, melainkan bisa menginspirasi orang agar mau mampu merubah hidupnya sendiri, menjadi yang terbaik yang dimungkinkan!
Dan agar bisa memberikan inspirasi yang efektif, perlu berbagai persyaratan dan kondisi khusus; bukan sekedar “bonek” (bondo nekat), karena akan mengecewakan diri sendiri dan teman seprofesi.

Jim Rohn adalah motivator kelas dunia, yang telah memotivasi dan merubah hidup banyak orang menjadi lebih baik; termasuk yang memotivasi Anthony Robbins, yang kemudian menjadi Motivator kelas dunia juga dan berhasil “mencetak” banyak Motivator hebat; namun ia tetap mengatakan bahwa motivasi saja tidak cukup!

Saya setuju dengan beliau. Saya percaya bahwa setiap manusia –besar atau kecil, tua atau muda, pria atau wanita, kaya atau miskin- pasti memerlukan motivasi, inspirasi; agar tetap bisa bersemangat ketika merasa letih lesu; agar kembali bangkit berjuang setelah jatuh; agar tetap percaya bahwa akan melihat sinar ketika berada diterowongan gelap. Karena kita sebagai manusia, memang seringkali merasa lemah; sehingga kita memerlukan motivasi!

Sebenarnya saya agak merasa sedih dan tersinggung jika ada orang yang mengatakan bahwa, “Enak ya jadi Motivator, cuma cuap cuap suruh orang teriak teriak dan loncat loncat saja bisa dapat uang besar!”
Persepsi itu bukan hanya ada dibenak orang awam, melainkan juga dikepala orang yang menyebut dirinya Motivator! Orang menganggap bahwa jika ia bisa menasehati orang agar tetap bersemangat, sudah layak menjadi Motivator!
Orang menganggap bahwa pekerjaan Motivator itu adalah kemampuan berorasi, kemampuan bersuara keras, berteriak-teriak didepan podium sambil menyuruh orang orang untuk melakukan gerakan fisik seperti loncat loncat, garuk garuk, dan teriak teriak!?
Orang menganggap bahwa menjadi Motivator adalah pekerjaan gampang. Siapa saja boleh dan bisa menjadi Motivator. Tidak perlu harus sekolah atau mempunyai keahlian khusus. Yang penting bisa teriak teriak!

Namun, sesungguhnya, motivasi saja tidak cukup! Bahkan jauh dari cukup!
Ketika perut lapar keroncongan, tidak akan menjadi lebih kenyang, sekalipun kita telah dimotivasi dan atau mempunyai motivasi yang luar biasa besar!
Jika isi kepala kosong, yang hanya berisi angin, dan bukan pengetahuan dan kompetensi, tidak akan membuat hasil kerja kita lebih baik atau bisa menciptakan terobosan; sekalipun kita telah dimotivasi dan mempunyai motivasi yang luarbiasa besar!
Agar bisa memberikan dampak positif yang adekuat serta berkesinambungan, motivasi harus disertai dengan tindakan yang strategik dan sistematis.
Kata inspirasi harus mengandung unsur pengetahuan, logika, keterampilan, dan kebergunaan praktis.
Jika tidak…., jika orang hanya dipengaruhi emosinya dengan berbagai macam tindakan fisik –seperti teriak teriak dan loncat loncat- maka sekalipun ketika beramai-ramai mereka merasa termotivasi, namun ketika acara motivasi usai, dan mereka kembali menjalani kehidupan nyata sendiri sendiri, akan terjadi “rebound effect” atau kumat!
Mereka akan kembali menjadi orang yang lama, seperti ketika belum dimotivasi, mengapa?
Karena model dan program motivasi yang hanya menyiasati faktor emosi dan fisik orang, ibaratnya hanya seperti efek minuman soda: berbuih sebentar, kemudian lenyap!

Motivasi yang long lasting dan berdampak nyata, adalah program yang menginspirasi orang akan pentingnya memiliki semangat untuk hidup sukses yang besar, sambil bersamaan kesediaan untuk mewujudkannya melalui program aksi holistik.
Artinya:
Jika untuk mewujudkan impian diperlukan gelar kesarjanaan tertentu, misalnya, maka ia harus bersedia merancang program aksi dan mengalokasikan dana serta waktu untuk kuliah malam misalnya. Sehingga ketika itu dilakukan, yang termotivasi bukan hanya emosinya, melainkan juga “isi kepalanya” atau kapasitas intelektualnya.
Dengan demikian, semangatnya yang besar, disertai dengan kemampuan yang juga besar; sehingga dampaknya atau hasilnya juga besar!
Seperti efek bola salju, orang yang merasa senang dan bangga dengan motivasi dan kompetensi yang membesar, akan mau menciptakan track-records baru yang lebih besar dan lebih membanggakan lagi; demikian seterusnya; sampai pada satu titik orang yang termotivasi itu menjadi
SANG MOTIVATOR, yakni orang yang memiliki “Self Starter Motivation”, mau mampu memotivasi dirinya sendiri dalam segala situasi kondisi, serta mau mampu memotivasi orang lain, agar memiliki hidup yang jauh lebih baik; dan kesemuanya itu berlangsung secara mandiri dan berkesinambungan

Jadi saudaraku, jangan menganggap tugas menjadi Motivator adalah sepele. Dan juga jangan menganggap bahwa menjadi Motivator itu gampang dan tanpa syarat, hanya bermodalkan “abab” atau cuap-cuap saja
Menjadi
SANG MOTIVATOR adalah pekerjaan mulia, sekaligus berat!
Karena kita bukan hanya bisa mengajarkan dan memotivasi orang, namun harus bisa menerapkan dan membuktikannya terlebih dahulu, dalam kehidupan kita sendiri, secara konsisten dan konsekwen!
Sama seperti berkhotbah, memotivasi orang juga gampang, kalau hanya mengajarkan pengetahuan atau teori kosong; namun model khotbah dan pengkhotbah atau motivator seperti itu tidak akan merubah orang!
Perkataannya hanya akan “masuk telinga kanan, keluar kuping kanan!”
Tidak berwibawa, karena tidak mempunyai otoritas, tidak berkuasa!
Kalau ingin berkuasa dan efektif dalam mempengaruhi, menginspirasi, dan merubah hidup orang, maka, “Do what you preach, and preach what you do!”
Lakukan apa yang Anda khotbahkan (ajarkan), dan khotbahkan (ajarkan) apa yang Anda lakukan, maka ketika memotivasi (mengajar) Anda berani berkata lantang, “IKUTILAH SAYA! FOLLOW ME!” maka orang akan mengikutinya; sama seperti turis mengikuti Tour Guide seperti bebek, karena percaya bahwa kredibilitas Tour Guide tidak akan membawanya nyasar.

Mari, jadilah “lokomotif”, AGEN PERUBAHAN, yang menarik “gerbong” Massa, bukan dengan perkataan kosong, melainkan dengan “kuasa dan fakta”. Mari kita buktikan bahwa kita adalah
SANG MOTIVATOR!

MOTIVATOR BISNIS | ABOUT JOHANES LIM | SUCCESS ARTICLES | SINOPSIS BUKU | Site Map


Back to content | Back to main menu